Program Kegiatan
Program Peningkatan Produksi Pertanian/Perkebunan PDF Print E-mail
Monday, 25 June 2012 23:16

A. Penunjang Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan


1. Latar Belakang Kegiatan
Sebagaimana telah kita ketahui bersama, bahwa mayoritas mata pencaharian dari penduduk Indonesia adalah sebagai petani. Dan dari sebagian besar petani, berada dalam kemiskinan, yang ditandai dengan luas kepemilikan lahan yang sempit, terbatasnya akses permodalan, teknologi yang sederhana dan sebagian besar hasil taninya untuk memeuhi kebutuhan sendiri.

Permasalahan mendasar yang dihadapi petani saat ini adalah terbatasnya akses kepada sumber permodalan, pasar dan teknologi serta kelembagaan tani yang masih lemah. Untuk mengatasi permasalahan ini, Pemerintah telah menetapkan Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) kepada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dengan harapan agar kelembagaan tani yang ada di desa dapat berfungsi optimal dalam fasilitasi kebutuhan dan keinginan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraannya.

2. Realisasi Pelaksanaan Kegiatan
Lokasi kegiatan Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan berada di 13 desa pada 6 Kecamatan dengan rincian  sebagai Berikut :

  1. Kecamatan Sendang diDesa Nyawangan,Desa Tugu.
  2. Kecamatan Kauman di Desa Panggungrejo,Desa Batangsaren.
  3. Kecamatan Campurdarat di Desa Campurdarat, Desa Wates, Desa Sawo.
  4. Kecamatan Tanggunggunung di Desa Jengglungharjo, Desa Ngepoh.
  5. Kecamatan Pucanglaban di Desa Kaligentong, Desa Panggungkalak.
  6. Kecamatan Ngantru di Desa Pojok, dan Desa Kepuhrejo

3. Permasalahan dan Solusi
Dalam pelaksanaan Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) permasalahan yang sering dihadapi adalah lemahnya kelembagaan tani, sehingga perlu pembinaan melalui pendampingan yang intensif; kurang tertibnya pelaksanaan administrasi (pembukuan) sehingga perlu pelatihan pengurus serta monitoring dan evaluasi; masih terdapatnya anggapan bahwa dana PUAP adalah BLT, sehingga pandangan ini perlu diluruskan dengan mengadakan sosialisasi.banyaknya kelompok tani yang belum mengerti tentang pengadministrasian dan sistem pembukuan yang masih banyak kekurangan maka dari itu perlu adanya pendampingan, banyaknya kekurang pahaman dalam pembukuan ini sering menjadi permasalahan dalam penyaluran dan pengembalian dana BLM-PUAP dari anggota kelompok tani kepada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Perlu adanya Sosialisasi untuk pembelajaran kepada kelompok tani maupun Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dalam pembukuan Administrasi dalam setiap Program yang masuk agar pengurus kelompok Tani Maupun Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) tidak terjadi kesalahan maupun kekeliruan dalam pembukuan penarikan maupun penyaluran dana BLM.

 

B. Penunjang Partisipatory Irrigation Sector Project (PISP)
1. Latar Belakang Kegiatan
Air merupakan salah satu faktor penentu (determinan) dalam proses produksi pertanian. Oleh karena itu investasi irigasi menjadi sangat penting dan strategis dalam rangka penyediaan air untuk pertanian. Dalam memenuhi kebutuhan air untuk berbagai keperluan usahatani, maka air harus diberikan dalam jumlah, waktu, dan mutu yang tepat, jika tidak maka tanaman akan terganggu pertumbuhannya yang pada gilirannya akan mempengaruhi produksi pertanian.
Kebutuhan pangan akan terus meningkat dengan adanya pertumbuhan penduduk, disinilah perlunya peningkatan produksi tanaman pangan dan hortikultura untuk mencukupi kebutuhan pangan sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama petani. Komoditas tanaman pangan dan hortikultura merupakan komoditas yang sangat prospektif untuk dikembangkan mengingat potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, ketersediaan teknologi serta potensi serapan pasar dalam negeri dan pasar internasional yang terus meningkat.
Peningkatan produksi pangan dan hortikultura masih mempunyai kendala antara lain terbatasnya sarana produksi seperti pupuk, pestisida, benih yang belum lancar juga alat dan mesin pertanian yang belum dapat memenuhi kebutuhan secara optimal. Oleh karena itu perlu adanya penyediaan sarana dan prasarana yang memadai seperti rehabilitasi jaringan irigasi desa dan pengelolaan irigasi partisipatif. Kegiatan Penunjang Participatory Irrigation Sector Project (PISP) ini merupakan kegiatan yang menjembatani pengadaan sarana dan prasarana pertanian yang dirasa masih kurang yang terdapat pada kegiatan tugas pembantuan. Kegiatan tugas pembantuan berpola padat karya. Penerapan pola padat karya pada kegiatan tugas pembantuan ini adalah agar petani betul-betul menjadi subyek dalam mengelola lahan pertanian dan bisa memperolah manfaat pembangunan pertanian yang lebih besar serta punya rasa kepemilikan yang besar dan berdampak pada keswadayaan petani.


2. Realisasi Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan dilaksanakan dengan Sosialisasi Pelaksanaan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Desa (JIDES) dan Pengelolaan Irigasi Partisipatif (PIP) dilaksanakan  di Gedung Pertemuan BKPP (Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan) Desa Wonorejo, Kecamatan Sumbergempol Kabupaten Tulungagung, selanjutnya Rapat Koordinasi Tingkat Pusat dan Daerah, CP/ CL (calon petani/ calon lokasi), dan Workshop penyusunan AWP (annual work plan).
3. Permasalahan dan Solusi
Permasalahan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut adalah belum dianggarkannya dana SID Kegiatan Pengelolaan Lahan dan Air pada tahun sebelumnya sehingga kesulitan untuk menentukan rehabilitasi jaringan irigasi desa/tersier, turunnya dana tidak bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan fisik di lapangan, pelaksanaan kegiatan fisik dan keuangan tidak sesuai dengan jadwal rencana kegiatan. Penyelesaian masalah tersebut adalah dengan dianggarkan tersendiri dana SID jaringan irigasi desa/tersier, agar teriventarisasi kebutuhan rehabilitasi sebelum pelaksanaan konstruksi, turunnya dana diharapkan bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan fisik di lapangan, sinkronisasi administrasi untuk mempercepat/ mempermudah pencairan dana, dan empercepat pelaksanaan fisik di lapangan dengan upaya memberdayakan dukungan swadaya masyarakat.,br> c. Pengadaan sarana dan prasarana pertanian (DAK)


1. Latar Belakang Kegiatan
Pembangunan pertanian tahun 2011 merupakan kelanjutan dan penyempurnaan dari kegiatan tahun 2010 dengan tekanan perhatian kepada permasalahan yang berkembang. Dalam tahun 2010, pemenuhan kebutuhan pangan akan tetap menjadi prioritas utama pembangunan pertanian. Permintaan pangan akan terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan pola konsumsi yang masih tergantung kepada beras. Peningkatan produksi pangan dihadapkan pada tantangan untuk mempertahankan laju pertumbuhan produksi daya saing, penurunan harga komoditas pangan saat panen. Upaya meningkatkan produksi pangan dan daya saing yang dihadapkan pada kendala lembaga sumberdaya lahan dan air (konservasi lahan, ketersediaan air, kondisi jaringan irigasi dan biaya produksi yang tinggi) modal, teknologi dan gangguan alam.
Kegiatan peningkatan produksi pangan dilakukan melalui peningkatan mutu intensifikasi pada lahan-lahan andalan produksi pangan. Peningkatan mutu intensifikasi dapat terlaksana dengan baik apabila sarana dan prasarana untuk usaha tani tercukupi dengan baik.Pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana yang memadai haruslah direncanakan dengan seksama agar apa yang ingin dicapai sesuai dengan apa yang diharapkan.


2. Realisasi Pelaksanaan Kegiatan
Lokasi Kegiatan Pengadaan Sarana dan Prasarana Pertanian Dana Alokasi Khusus adalah di Kabupaten Tulungagung yang meliputi

Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tingkat Usaha Tani (JITUT)

yang berlokasi di Desa Ngubalan Kecamatan Kalidawir, Desa Wonokromo Kecamatan Gondang, Desa Dukuh Kecamatan Gondang, DesaGombang Kecamatan Pakel, Desa Bangunjaya Kecamatan Pakel, Desa Sambitan kecamatan Pakel, Desa Mojosari Kecamatan Kauman, Desa Jatimulyo Kecamatan Kauman, Kelurahan Kuthoanyar Kecamatan Tulungagung, Desa Sobontoro Kecamatan Boyolangu, Desa Pelem Kecamatan Campurdarat, dan di Desa Junjung Kecamatan Sumbergempol.

Rehabilitasi Jalan Usaha Tani (JUT)

yang berlokasi di Desa Sobontoro Kecamatan Boyolangu, Desa Beji Kecamatan Boyolangu, Desa Notorejo Kecamatan Gondang, Desa Gondang Kecamatan Gondang, dan Desa Banjarejo Kecamatan Rejotangan. Pembangunan Embung yang berlokasi di Desa Tanggunggunung Kecamatan Tanggunggunung. Pengadaan Hand Traktor yang berlokasi di Desa Padangan Kecamatan Ngantru, Desa Jatimulyo Kecamatan Kauman, Desa Jabalsari Kecamatan Sumbergempol, dan di Desa Jeli Kecamatan Karangrejo.


Pengadaan Pompa Air

yang berlokasi di Desa Tanggulwelahan Kecamatan Besuki, Desa Gedangan Kecamatan Campurdarat, Desa Pelem Kecamatan Campurdarat, Desa Pagersari Kecamatan Kalidawir, Desa Soko Kecamatan Bandung, Desa Tapan Kecamatan Kedungwaru Desa Boyolangu Kecamatan Boyolangu, Desa Notorejo Kecamatan Gondang, Desa Gedangsewu Kecamatan Boyolangu, Desa Kedungcangkring Kecamatan Pagerwojo, Desa Sukowiyono Kecamatan karangrejo, Desa gedangan Kecamatan Karangrejo, Desa Duwet Kecamatan Pakel, Desa Bono Kecamatan Pakel, Desa Tamban kecamatan Pakel, Desa Kasreman Kecamatan Pakel, Desa Ngunut Kecamatan Ngunut, Desa Pandansari Kecamatan Ngunut, Desa Nglampir Kecamatan Bandung, Desa Gesikan Kecamatan Pakel,Desa Srikaton Kecamatan Ngantru, Desa Bendosari Kecamatan Ngantru, Desa Pinggirsari Kecamatan Ngantru, Desa Mulyosari Kecamatan Pagerwojo, Desa Tenggong Kecamatan Rejotangan, Desa Buntaran Kecamatan Rejotangan, Desa Bendungan Kecamatan Gondang, Desa Ngantru Kecamatan Ngantru, dan diDesa Campurdarat Kecamatan Campurdarat dan Desa Jatimulyo kecamatan Kauman. Pengadaan Cooper yang berlokasi di Desa Karangtalun Kecamatan Kalidawir, Desa Kalibatur Kecamatan Kalidawir, Desa Joho Kecamatan Kalidawir, Desa Kalibatur Kecamatan Kalidawir, Desa Kedoyo Kecamatan Sendang,Desa Nglurup Kecamatan Sendang, Desa Talang Kecamatan Sendang, Desa Geger Kecamatan Sendang, Desa Jengglungharjo Kecamatan Tanggunggunung, Desa Tangunggunung Kecamatan Tanggunggunung,Desa Sumberagung Kecamatan Rejotangan, Desa Jatidowo Kecamatan Rejotangan, Desa tanen Kecamatan Rejotangan, Desa Tugu Kecamatan Rejotangan, Desa Pandansari Kecamatan Ngunut, Desa Ngranti Kecamatan Boyolangu, Desa Kendalbulur Kecamatan Boyolangu, Desa Tanggung Kecamatan Campurdarat, Desa Tunggulsari Kecamatan Kedungwaru, Desa Kradinan Kecamatan Pagerwojo, Desa Penjor Kecamatan Pagerwojo, Desa Segawe Kecamatan Pagerwojo, Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo, Desa Gondanggunung Kecamatan Pagerwojo, Desa Batokan Kecamatan Ngantru, Desa Bendosari Kecamatan Ngantru, Desa Kepuhrejo Kecamatan Ngantru, Desa Mojoagung Kecamatan Ngantru, Desa Wajak Lor Kecamatan Boyolangu, Desa Bono Kecamatan Boyolangu, Desa Kendalbulur Kecamatan Boyolangu, Desa Banyuurip Kecamatan Kalidawir, Desa Bono Kecamatan Pakel, Desa Sodo Kecamatan Pakel, Desa Suwaluh Kecamatan Pakel, Desa Sukoanyar Kecamatan Pakel, Desa Trenceng Kecamatan Sumbergempol, Desa Sambijajar Kecamatan Sumbergempol, Desa Sambidoplang Kecamatan Sumbergempol, Desa Bukur Kecamatan Sumbergempol, Desa Rejosari Kecamatan Gondang, Desa Tanjung Kecamatan Kalidawir, Desa Sidomulyo Kecamatan Gondang, Desa Manding Kecamatan Pucanglaban, Desa Bungur Kecamatan Karangrejo, Desa Jeli Kecamatan Karangrejo, Desa Sukowidodo Kecamatan Karangrejo,Desa Babadan Kecamatan Karangrejo, Desa Campurdarat Kecamatan Campurdarat, Desa Ngentrong Kecamatan Campurdarat, Desa Balerejo Kecamatan Kauman, Desa Siyoto Bagus Kecamatan Besuki, Desa Tanggulturus Kecamatan Besuki, Desa Tunggulsari Kecamatan Kedungwaru, Desa Karangsari Kecamatan Rejotangan, Desa Bendilwungu KecamatanSumbergempol, Desa Singgit Kecamatan Bandung, Desa Bantengan Kecamatan Bandung, KelurahanTamanan Kecamatan Tulungagung, Desa Sumberejo Wetan Kecamatan Ngunut, Desa Plosokandang kecamatan Kedungwaru dan Desa Boro kecamatan Kedungwaru.

 


3. Permasalahan dan Solusi
Dalam pelaksanaan kegiatan Pengadaan Sarana dan Prasarana Pertanian Dana Alokasi Khusus tidak mengalami permasalahan yang berarti sehingga kegiatan dapat berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
d. Pendamping Pengadaan sarana dan prasarana pertanian (DAK)
1. Latar Belakang Kegiatan
Pembangunan pertanian tahun 2011 merupakan kelanjutan dan penyempurnaan dari kegiatan tahun 2010 dengan tekanan perhatian kepada permasalahan yang berkembang.
Dalam tahun 2011, pemenuhan kebutuhan pangan akan tetap menjadi prioritas utama pembangunan pertanian. Permintaan pangan akan terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan pola konsumsi yang masih tergantung kepada beras. Peningkatan produksi pangan dihadapkan pada tantangan untuk mempertahankan laju pertumbuhan produksi daya saing, penurunan harga komoditas pangan saat panen. Upaya meningkatkan produksi pangan dan daya saing yang dihadapkan pada kendala lembaga sumberdaya lahan dan air (konservasi lahan, ketersediaan air, kondisi jaringan irigasi dan biaya produksi yang tinggi) modal, teknologi dan gangguan alam. Kegiatan peningkatan produksi pangan dilakukan melalui peningkatan mutu intensifikasi pada lahan-lahan andalan produksi pangan. Peningkatan mutu intensifikasi dapat terlaksana dengan baik apabila sarana dan prasarana untuk usaha tani tercukupi dengan baik.Pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana yang memadai haruslah direncanakan dengan seksama agar apa yang ingin dicapai sesuai dengan apa yang diharapkan.
2. Realisasi Pelaksanaan Kegiatan
Lokasi Kegiatan Pendamping Pengadaan sarana dan prasarana pertanian adalah di Kabupaten Tulungagung yang meliputi Rehabilitasi Jaringan IrigasiTingkat Usaha Tani (JITUT) yang berlokasi di Desa Ngubalan Kecamatan Kalidawir, Desa Wonokromo Kecamatan Gondang, Desa Dukuh Kecamatan Gondang, DesaGombang Kecamatan Pakel, Desa Bangunjaya Kecamatan Pakel, Desa Sambitan kecamatan Pakel, Desa Mojosari Kecamatan Kauman, Desa Jatimulyo Kecamatan kauman Kelurahan Kuthoanyar Kecamatan Tulungagung, Desa Sobontoro Kecamatan Boyolangu, Desa Pelem Kecamatan Campurdarat, dan di Desa Junjung Kecamatan Sumbergempol. Rehabilitasi Jalan Usaha Tani (JUT) yang berlokasi di Desa Sobontoro Kecamatan Boyolangu, Desa Beji Kecamatan Boyolangu, Desa Notorejo Kecamatan Gondang, Desa Gondang Kecamatan Gondang, dan Desa Banjarejo Kecamatan Rejotangan. Pembangunan Embung yang berlokasi di Desa Tanggunggunung Kecamatan Tanggunggunung. Pengadaan Hand Traktor yang berlokasi di Desa Padangan Kecamatan Ngantru, Desa Jatimulyo Kecamatan Kauman, Desa Jabalsari Kecamatan Sumbergempol, dan di Desa Jeli Kecamatan Karangrejo. Pengadaan Pompa Air yang berlokasi di Desa Tanggulwelahan Kecamatan Besuki, Desa Gedangan Kecamatan Campurdarat, Desa Pelem Kecamatan Campurdarat, Desa Pagersari Kecamatan Kalidawir, Desa Soko Kecamatan Bandung, Desa Tapan Kecamatan Kedungwaru Desa Boyolangu Kecamatan Boyolangu, Desa Notorejo Kecamatan Gondang, Desa Gedangsewu Kecamatan Boyolangu, Desa Kedungcangkring Kecamatan Pagerwojo, Desa Sukowiyono Kecamatan Karangrejo, Desa Gedangan Kecamatan Karangrejo, Desa Duwet Kecamatan Pakel, Desa Bono Kecamatan Pakel, Desa Tamban kecamatan Pakel, Desa Kasreman Kecamatan Pakel, Desa Ngunut Kecamatan Ngunut, Desa Pandansari Kecamatan Ngunut, Desa Nglampir Kecamatan Bandung, Desa Gesikan Kecamatan Pakel,Desa Srikaton Kecamatan Ngantru, Desa Bendosari Kecamatan Ngantru, Desa Pinggirsari Kecamatan Ngantru, Desa Mulyosari Kecamatan Pagerwojo, Desa Tenggong Kecamatan Rejotangan, Desa Buntaran Kecamatan Rejotangan, Desa Bendungan Kecamatan Gondang, Desa Ngantru Kecamatan Ngantru, dan di Desa Campurdarat Kecamatan Campurdarat dan desa Jatimulyo kecamatan Kauman. Pengadaan Cooper yang berlokasi di Desa Karangtalun Kecamatan Kalidawir, Desa Kalibatur Kecamatan Kalidawir, Desa Joho Kecamatan Kalidawir, Desa Kalibatur Kecamatan Kalidawir, Desa Kedoyo Kecamatan Sendang,Desa Nglurup Kecamatan Sendang, Desa Talang Kecamatan Sendang, Desa Geger Kecamatan Sendang, Desa Jengglungharjo Kecamatan Tanggunggunung, Desa Tangunggunung Kecamatan Tanggunggunung, Desa Sumberagung Kecamatan Rejotangan, Desa Jatidowo Kecamatan Rejotangan, Desa tanen Kecamatan Rejotangan, Desa Tugu Kecamatan Rejotangan, Desa Pandansari Kecamatan Ngunut, Desa Ngranti Kecamatan Boyolangu, Desa Kendalbulur Kecamatan Boyolangu, Desa Tanggung Kecamatan Campurdarat, Desa Tunggulsari Kecamatan Kedungwaru, Desa Kradinan Kecamatan Pagerwojo, Desa Penjor Kecamatan Pagerwojo, Desa Segawe Kecamatan Pagerwojo, Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo, Desa Gondanggunung Kecamatan Pagerwojo, Desa Batokan Kecamatan Ngantru, Desa Bendosari Kecamatan Ngantru, Desa Kepuhrejo Kecamatan Ngantru, Desa Mojoagung Kecamatan Ngantru, Desa Wajak Lor Kecamatan Boyolangu, Desa Bono Kecamatan Boyolangu, Desa Kendalbulur Kecamatan Boyolangu Desa Banyuurip Kecamatan Kalidawir, Desa Bono Kecamatan Pakel, Desa Sodo Kecamatan Pakel, Desa Suwaluh Kecamatan Pakel, Desa Sukoanyar Kecamatan Pakel, Desa Trenceng Kecamatan Sumbergempol, Desa Sambijajar Kecamatan Sumbergempol, Desa Sambidoplang Kecamatan Sumbergempol, Desa Bukur Kecamatan Sumbergempol, Desa Rejosari Kecamatan Gondang, Desa Tanjung Kecamatan Kalidawir, Desa Sidomulyo Kecamatan Gondang, Desa Manding Kecamatan Pucanglaban, Desa Bungur Kecamatan Karangrejo, Desa Jeli Kecamatan Karangrejo, Desa Sukowidodo Kecamatan Karangrejo,Desa Babadan Kecamatan Karangrejo, Desa Campurdarat Kecamatan Campurdarat, Desa Ngentrong Kecamatan Campurdarat, Desa Balerejo Kecamatan Kauman, Desa Siyoto Bagus Kecamatan Besuki, Desa Tanggulturus Kecamatan Besuki, Desa Tunggulsari Kecamatan Kedungwaru, Desa Karangsari Kecamatan Rejotangan, Desa Bendilwungu KecamatanSumbergempol, Desa Singgit Kecamatan Bandung, Desa Bantengan Kecamatan Bandung, KelurahanTamanan Kecamatan Tulungagung, desa Sumberjo Wetan kecamatan Ngunut, dan desa Boro kecamatan Kedungwaru.
3. Permasalahan dan Solusi
Dalam pelaksanaan kegiatan Pengadaan Sarana dan Prasarana Pertanian Dana Alokasi Khusus tidak mengalami permasalahan yang berarti sehingga kegiatan dapat berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
e. Penunjang Perencanaan Teknis, pengawasan dan koordinasi pelaksana an pengadaan sarana dan prasarana pertanian.
1. Latar Belakang Kegiatan
Pembangunan pertanian tahun 2011 merupakan kelanjutan dan penyempurnaan dari kegiatan tahun 2010 dengan tekanan perhatian kepada permasalahan yang berkembang. Dalam tahun 2011, pemenuhan kebutuhan pangan akan tetap menjadi prioritas utama pembangunan pertanian. Permintaan pangan akan terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan pola konsumsi yang masih tergantung kepada beras. Peningkatan produksi pangan dihadapkan pada tantangan untuk mempertahankan laju pertumbuhan produksi daya saing, penurunan harga komoditas pangan saat panen. Upaya meningkatkan produksi pangan dan daya saing yang dihadapkan pada kendala lembaga sumberdaya lahan dan air (konservasi lahan, ketersediaan air, kondisi jaringan irigasi dan biaya produksi yang tinggi) modal, teknologi dan gangguan alam.
Kegiatan peningkatan produksi pangan dilakukan melalui peningkatan mutu intensifikasi pada lahan-lahan andalan produksi pangan. Peningkatan mutu intensifikasi dapat terlaksana dengan baik apabila sarana dan prasarana untuk usaha tani tercukupi dengan baik.Pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana yang memadai haruslah direncanakan dengan seksama agar apa yang ingin dicapai sesuai dengan apa yang diharapkan.
2. Realisasi Pelaksanaan Kegiatan
Lokasi Kegiatan Penunjang Perencanaan Teknis, Pengawasan, dan Koordinasi Kegiatan Pengadaan Sarana dan Prasarana Pertanian Dana Alokasi Khusus adalah di Kabupaten Tulungagung.
3. Permasalahan dan Solusi
Dalam pelaksanaan kegiatan koordinasi dan pengawasan dalam pelaksanaan Pengadaan Sarana dan Prasarana Pertanian Dana Alokasi Khusus tidak mengalami permasalahan yang berarti sehingga kegiatan dapat berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
f. Operasional kontak tani nelayan andalan (KTNA)
1. Latar Belakang Kegiatan
Di dalam menghadapi era globalisasi perdagangan bebas/internasional, pembangunan pertanian dituntut untuk dapat menetralisir tujuannya dalam meningkatkan pendapatan petani, meningkatkan kualitas konsumsi /gizi, menciptakan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha dan meningkatkan industri melalui pengembangan pertanian harus mampu merubah kondisi usahatani yang sebelumnya bersifat subsisten menjadi usahatani yang bersifat komersial sejalan dengan meningkatnya produktivitas dan produksi pertanian.
Peran Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) sebagai wadah organisasi petani dalam menfasilitasi kebutuhan para petani/kelompok tani dan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petani didalam mengakses informasi, data dan inovasi teknologi sangat dibutuhkan. Sedangkan KTNA sendiri dalam melaksanakan kegiatan belum mempunyai dana untuk operasionalnya. . Maksud dan tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dalam penyiapan penyusunan dan penyajian data kelompok tani yang akurat, meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petani/kelompok tani, meningkatkan penyebaran informasi pemasaran hasil pertanian melalui promosi/pameran produk unggulan.
2. Realisasi Pelaksanaan Kegiatan,Adapun kegiatannya meliputi rapat rutin KTNA di tingkat kabupaten dan kecamatan, pengumpulan data kelompok tani, promosi/pameran produk hasil pertanian dan kegiatan-kegiatan di luar daerah. Kegiatan ini tidak memberikan dampak secara langsung kepada masyarakat, melainkan secara tidak langsung berpengaruh positif dalam kegiatan perencanaan program peningkatan pengetahuan dan ketrampilan petani dalam rangka melaksanakan kegiatan usahataninya dengan volume kegiatan 1 paket. Adapun tingkat capaian sasaran/target kegiatannya adalah terlaksananya pendataan kelompok tani se kabupaten dari target 271 Gapoktan yang berhasil dilaksanakan 270 Gapoktan karena Kelurahan Kauman Kecamatan Tulungagung tidak ada Gapoktan, terlaksananya Pameran Produk Unggulan dari target 1 (satu) kali berhasil dilaksanakan  bertempat di Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Kabupaten Tulungagung Jln. Wonorejo 93 Sumbergempol Tulungagung,t erlaksananya rapat KTNA Tingkat Kabupaten dari target 5 bulan setiap bulanya satu kali berhasil dilaksanakan seluruhnya, dan terlaksanannya rapat KTNA tingkat Kecamatan dari target 5 bulan setiap bulan satu kali pada setiap kecamatan (19 kecamatan) berhasil dilaksanakan seluruhnya.
3. Permasalahan dan Solusi,br> Permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan kegiatan adalah kurangnya koordinasi dan kerja sama antar petani/kelompok tani, dan masih rendahnya pengetahuan dan ketrampilan petani dalam mengakses informasi data dan inovasi teknologi. Tindak lanjut dari permasalahan tersebut adalah dengan peningkatan koordinasi dan kerjasama antar petani/kelompok tani, dan penyelenggaraan bimbingan dan pendampingan terhadap petani/kelompok tani secara kontinyu seiring dengan perkembangan teknologi.
g. Penyusunan Program kerja dan kegiatan pembangunan pertanian tanaman pangan
1. Latar Belakang Kegiatan
Penyusunan Rencana Kerja / Renja SKPD dan Kegiatan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tulungagung dimaksudkan sebagai upaya untuk memberikan gambaran sekaligus acuan dalam pelaksanaan seluruh kegiatan yang ada pada Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tulungagung baik kegiatan rutin maupun pembangunan sehingga seluruh kegiatan yang ada dapat terlaksana dengan baik dan lancar sesuai yang diharapkan dan dirumuskan dalam kebijakan serta dapat dipertanggungjawabkan.
Usulan kegiatan Dinas merupakan usulan rutin yang harus dibuat setiap tahun dengan mekanisme menggabungkan usulan kegiatan dari hasil Musrenbang dengan usulan kegiatan Dinas yang disusun berdasarkan urutan prioritas. Usulan kegiatan Dinas yang telah disetujui oleh Bappeda dan Dinas Pendapatan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) disusun dalam bentuk Rencana Kerja dan Anggaran (RKA), dan selanjutnya kegiatan-kegiatan yang telah disetujui oleh DPRD bisa dibuat Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) sebagai acuan untuk mencairkan dana.Dari usulan sampai pelaksanaan kegiatan diperlukan suatu pertanggungjawaban yang dibuat berupa laporan-laporan baik laporan bulanan maupun laporan tahunan. Adapun laporan tersebut terdiri atas laporan fisik keuangan, tahunan, LKPJ dan LAKIP.
Maksud dari pelaksanaan program dan kegiatan ini adalah sebagai saran untuk koordinasi, integrasi dan sinkronisasi pelaksanaan, pengendalian, monev dan pelaporan program serta kegiatan SKPD, sebagai sarana untuk penyusunan kebijakan dan strategi pembangunan bidang pertanian. Sedangkan tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini adalah meningkatnya efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan pangan dan kegiatan serta pelayanan kepada masyarakat / petani,dan meningkatnya kwalitas pelaksanaan pangan dan kegiatan serta pelayanan kepada masyarakat / petani.
2. Realisasi Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan dilaksanakan di Kantor Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tulungagung. Hasil kegiatan Penyusunan Program Kerja dan Kegiatan Pembangunan Pertanian Tanaman Pangan berupa Buku Program Kerja / Renja SKPD / Renstra SKPD, Buku Usulan Kegiatan Pertanian Dinas, Buku Rencana Kerja Anggaran (RKA) / RKAP SKPD, Buku Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) / DPPA SKPD, Buku Laporan Akhir Kegiatan, Buku Laporan Tahunan Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Buku Laporan Fisik dan Keuangan APBD Kabupaten, APBD Propinsi dan APBN, dan Buku LKPJ dan LAKIP.
3. Permasalahan dan Solusi
Permasalahan dalam pelaksanaan kegiatan adalah usulan kegiatan pertanian dari Kecamatan (hasil Musrenbang) hanya sebagian kecil yang bisa tercover dalam usulan kegiatan Dinas. Saran tindak dalam pelaksanaan adalah jika memungkinkan dari sisi efisiensi dan efektivitas waktu dan anggaran, dipandang perlu untuk melaksanakan survey awal lokasi kegiatan yang diusulkan melalui musrenbang dan dilakukan sinkronisasi dengan usulan Dinas, agar perencanaan kegiatan lebih dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sasaran.
h. Pengembangan kawasan agropolitan (budidaya kapri)
1. Latar Belakang Kegiatan
Dalam rangka pembangunan pertanian wawasan yang dikembangkan adalah pembangunan nasional yang seyogyanya berporos pada sektor pertanian sehingga sektor-sektor lain mengacu dan berlandaskan pada pertanian dalam menyusun rancangan pembangunannya. Di Jawa Timur pada tahun 1980 telah dikembangkan konsep pembangunan pertanian terpadu yang berdasarkan pada keterpaduan program, keterpaduan wilayah dan keterpaduan usaha tani. Program tersebut pada awalnya dapat memacu peningkatan pembangunan pertanian / pedesaan di Jawa Timur Namun terdapat titik kelemahan yaitu pada koordinasi pelaksanaan serta sifat kegiatannya yang masih bertitik berat pada peningkatan produksi dan produktivitas sehingga kegiatan tersebut hanya berhasil pada awal pelaksanaan.
Guna mengubah corak pertanian subsistem ke arah pertanian komersial maka secara nasional mulai dikembangkan suatu pendekatan pembangunan nasional melalui sistem agribisnis. Sistem agribisnis merupakan rangkaian dari berbagai sistem mulai dari subsistem penyediaan prasarana dan sarana produksi, subsistem teknologi produksi, subsistem pengolahan hasil dan subsistem pemasaran. Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah alokasi penggunaan lahan yang tepat merupakan prasarat utama untuk meningkatkan pendapatan asli daerah melalui agribisnis. Karena alokasi sumberdaya disertai dengan pemilihan komoditas unggulan yang sesuai tidak saja akan meningkatkan pendapatan petani maupun daerah akan tetapi sekaligus menjamin terwujudnya pertanian yang tangguh dan berkelanjutan untuk masa kini dan masa yang akan datang . Salah satu untuk mewujudkan hal tersebut adalah melalui program pengembangan kawasan agropolitan.
Salah satu syarat suatu kawasan agropolitan adalah adanya Komoditas unggulan dimana komoditas unggulan adalah komoditas yang banyak dikembangkan oleh masyarakat di wilayah kawasan agropolitan dan mempunyai keunggulan dari segi agribisnis. agar pengembangan komoditas unggulan menjadi lebih menarik bagi masyarakat sekitar untuk mengembangkannya maka perlu dilaksanakan Demplot Komoditas Unggulan. Dimana dengan demplot tersebut maka petani dapat mengetahui bagaimana teknis budidaya komoditas unggulan dimaksud secara baik dan benar sehingga nantinya dapat menarik petani untuk mengembangkan komoditas unggulan tersebut sebagai usahataninya.
2. Realisasi Pelaksanaan Kegiatan
Lokasi Kegiatan Pengembangan Kawasan Agropolitan / Budidaya kapri ada di desa geger Kecamatan Sendang .


3. Permasalahan dan Solusi
Permasalahan yang ada adalah Karena kegiatan ini adalah kegiatan PAK dimana pencairan dana belum dapat dilakukan pada saat dibutuhkan petani. Kebutuhan sarana produksi demplot dilakukan melalui pihak ketiga sehingga petani dapat segera melaksanakan demplot sesuai jadwal.
i. Peningkatan Pelayanan Publik untuk penyaluran pupuk bersubsidi
1. Latar Belakang Kegiatan
Pembangunan pertanian tanaman pangan dan hortikultura diarahkan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat tani dan memperluas lapangan kerja. Dalam mencapai arah pembangunan tanaman pangan dan hortikultura tersebut perlu upaya pemantapan swasembada pangan serta pembangunan pertanian. Dalam pola pengembangan sumberdaya efisiensi sarana prasarana pertanian dan hortikultura, penggunaan alat mesin pertanian merupakan salah satu unsur yang penting baik sebagai sarana produksi kegiatan maupun penggunaan alat pertanian, merupakan kegiatan yang perlu dilaksanakan secara terpadu dan terarah.
Pupuk, pestisida dan benih merupakan sarana pertanian yang harus tersedia tepat waktu, tepat tempat, tepat dosis, tepat jumlah, tepat mutu dan tepat harga. Apabila terjadi gangguan terhadap penyediaan kebutuhan pupuk pestisida dan benih sehingga tidak memenuhi 6 tepat tesebut maka hal ini akan sangat berpengaruh terhadap proses produksi tanaman pangan dan hortikultura. Kebutuhan sarana produksi (pupuk) meningkat sangat tajam pada awal pertanaman padi. Kenyataan yang terjadi pada beberapa tahun lalu, selalu terjadi kelangkaan pupuk (urea) saat dibutuhkan petani, yang terjadi pada bulan Januari/Pebruari, Mei/Juni, Oktober/Nopember, sehingga berdampak sangat meresahkan petani.
Upaya untuk mengatasi hal tersebut diatas Pemerintah Daerah memfasilitasi dengan adanya kegiatan Peningkatan Pelayanan Publik Untuk Penyaluran Pupuk Bersubsidi Kabupaten Tulungagung Tahun Anggaran 2011. diharapkan dengan kegiatan ini dapat diatur distribusi pupuk sehingga ketersediaan pupuk di tingkat petani terjamin.
2. Realisasi Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan Peningkatan Pelayanan Publik Untuk Penyaluran Pupuk Bersubsidi ini berlokasi di Kabupaten Tulungagung dengan sasaran kegiatan adalah petani se- Kabupaten Tulungagung.
3. Permasalahan dan Solusi,br> Permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan kegiatan tersebut adalah ada beberapa pelaksanaan fisik kegiatan mengikuti jadwal kegiatan pusat, sehingga ada beberapa kegiatan yang harus menyesuaikan, seperti halnya tanggal pelaksanaan expose kwalitas pelayanan publik bidang pertanian dalam rangka pemberian penghargaan Abdi Bhakti Tani tingkat nasional sering berubah-ubah. Honorarium pelaksana teknis kegiatan yang semula diberikan 6 (enam) bulan menjadi 4 (empat) bulan sehingga dana tidak dapat terserap 100%. Hal ini dikarenakan terbitnya Surat Penarikan Dana (SPD) pada semua kegiatan PAK jatuh pada Triwulan IV, adanya perubahan iklim akan berpengaruh dengan jadwal tanam dan sekaligus penggunaan pupuk tepat waktu.
Solusi untuk mananggulangi permasalahan tersebut adalah dengan pemantauan langsung di lapangan dengan Tim terkait (TP3) sehingga segala permasalahan di lapangan akan segera diketahui, dan mengadakan rapat secara rutin bersama instansi terkait (Tim Pengawas Pupuk (TP3) tingkat kabupaten.

Last Updated on Monday, 25 June 2012 23:23
 
Program Kegiatan Dinas Pertanian Tanaman Pangan PDF Print E-mail
Monday, 25 June 2012 23:15

A. Program

Menurut Nomenklatur Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tulungagung dalam merealisasikan misi dan arah kebijakan dituangkan dalam 5 program yaitu : 1     Peningkatan Kesejahteraan Petani
2     Peningkatan Ketahanan Pangan
3     Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertanian
4     Peningkatan Penerapan Teknologi Pertanian
5     Peningkatan Produksi Pertanian


Kemudian dari masing-masing program tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Program Peningkatan Kesejahteraan Petani
a. Pelatihan petani dan pelaku agribisnis
b. Penyuluhan dan pendampingan petani dan pelaku agribisnis.
c. Peningkatan kemampuan petani.
d. Peningkatan sistem kelembagaan / kelompok tani
e. Penyuluhan dan bimbingan pemanfaatan lahan pertanian.
f. Dst.

2. Program Peningkatan Ketahanan Pangan
a.  Penanganan daerah rawan pangan.
b.  Penyusunan data base potensi produksi pangan.
c.  Analisis dan penyusunan pola konsumsi dan suplai pangan.
d.  Analisis rasio jumlah penduduk terhadap jumlah kebutuhan pangan.
e.  Laporan berkala kondisi ketahanan pangan daerah.
f.   Kajian rantai pasokan dan pemasaran pangan.
g.  Monitoring, evaluasi dan pelaporan kebijakan perberasan.
h.  Monitoring, evaluasi dan pelaporan kebijakan subsidi pertanian.
i.   Pemanfaatan pekarangan untuk pengembangan pangan.
j.   Pemantauan dan analisis akses pangan masyarakat.
k.  Pemantauan dan analisis harga pangan pokok.
l.   Penanganan pasca panen dan pengelolaan hasil pertanian.
m. Pengembangan cadangan pangan daerah.
n.  Pengembangan desa mandiri pangan.
o.  Pengembangan intensifikasi tanaman padi, palawija.
p.  Pengembangan deversifikasi tanaman.
q.  Pengembangan pertanian pada lahan kering.
r.   Pengembangan lumbung pangan desa.
s.  Pengembangan model distribusi pangan yang efisien.
t.   Pengembangan perbenihan / perbibitan
u.  Pengembangan sistem informasi pangan.
v.  Peningkatan mutu dan keamanan pangan.
w. Koordinasi kebijakan perberasan.
x.  Koordinasi perumusan kebijakan pertanahan dan infrastruktur pertanian dan perdesaan.
y.  Penelitian dan pengembangan sumberdaya pertanian.
z.  Penelitian dan pengembangan teknologi bioteknologi.
aa. Penelitian dan pengembangan teknologi budidaya.
bb. Penelitian dan pengembangan teknologi pasca panen.
cc. Peningkatan produksi, produktivitas dan mutu produk pertanian.
dd. Penyuluha sumber pangan alternatif.
ee. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
ff.   Dst.

3. Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertanian.
a. Penelitian dan pengembangan pemasaran hasil produksi pertanian.
b. Fasilitasi kerjasama regional/Nasional/Internasional penyediaan hasil produksi pertanian.
c. Pengembangan sarana dan prasarana pasar kecamatan/perdesaan produksi hasil pertanian.
d. Pembangunan pusat-pusat etalase/eksebisi/promosi atas hasil produksi pertanian.
e. Pemeliharaan rutin/berkala sarana dan prasarana kecamatan/ perdesaan produksi hasil pertanian.
f.  Pemeliharaan rutin/berkala pusat-pusat etalase/eksebisi/promosi atas hasil-hasil produksi pertanian.
g. Promosi atas hasil pertanian.
h. Penyuluhan pemasaran produksi pertanian guna menghindari tengkulak dan sistem ijon.
i.  Pengembangan pusat-pusat penampungan produksi hasil pertanian yang akan dipasarkan.
j.  Pengolahan informasi permintaan pasar atas hasil produksi pertanian.
k. Penyusunan distribusi pemasaran atas hasil produksi pertanian.
l.  Penyuluhan kwalitas dan teknis kemasan hasil pertanian yang akan dipasarkan.
m.Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
n. Dst.

4. Program Peningkatan Penerapan Teknologi Pertanian.
a. Penelitian dan pengembangan teknologi pertanian tepat guna.
b. Pengadaan sarana dan prasarana teknologi pertanian tepat guna.
c. Pemeliharaan rutin / berkala sarana prasarana teknologi pertanian tepat guna.
d. Kegiatan penyuluhan penerapan teknologi pertanian tepat guna.
e. Pelatihan dan bimbingan pengoperasian teknologi pertanian tepat guna.
f.  Pelatihan penerapan teknologi pertanian modern.
g. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
h. Dst.

5. Program Peningkatan Produksi Pertanian
a. Penyuluhan peningkatan produksi pertanian.
b. Penyediaan sarana produksi pertanian.
c. Pengembangan bibit unggul pertanian.
d. Sertifikasi bibit unggul pertanian.
e. Penyusunan kebijakan pencegahan alih fungsi lahan pertanian.
f.  Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
g. Dst.

B. Kegiatan
Kegiatan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tulungagung secara rinci diuraikan pada lampiran Matrik Program dan Kegiatan RENJA SKPD Tahun 2009

C. Tabel Program Kegiatan Tahun 2009
NO    PROGRAM DAN KEGIATAN
1     Program Peningkatan Kesejahteraan Petani
1. Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) pada Tanaman Pangan;

1     Program Peningkatan Produksi Pertanian/ Perkebunan.
1. Penunjang Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesan (PUAP);
2. Penunjang Participatory Irrigation Sector Project (PISP);td>
3. Pengadaan Sarana dan Prasarana Pertanian (DAK);
4. Pendamping Pengadaan Sarana dan Prasarana Pertanian (DAK);
5. Penunjang perencanaan teknis, pengawasan dan koordinasi pelaksanaan pengadaan sarana dan prasarana pertanian
6. Operasional Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA);
7. Penyusunan Program Kerja dan Kegiatan Pembangunan Pertanian Tanaman Pangan.
8. Pengembangan Kawasan Agropolitan (Budidaya Kapri);
9. Peningkatan Pelayanan Publik untuk Penyaluran Pupuk Bersubsidi

3     Program Penerapan Teknologi Pertanian.
1. Perbanyakan Komoditas Unggul Hortikultura

4     Program Peningkatan Administrasi Perkantoran
1. Penyediaan jasa surat menyurat;
2. Penyediaan jasa komunikasi, sumberdaya air dan listrik;
3. Penyediaan jasa administrasi keuangan;
4. Penyediaan jasa kebersihan;
5. Penyediaan alat tulis kantor;
6. Penyediaan jasa surat menyurat;
7. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan;
8. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan kantor;
9. Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor;
10. Penyediaan makanan dan minuman;
11. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi keluar daerah;

5     Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur
1. Pemeliharaan rutin/berkala rumah dinas;
2. Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor;
3. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas operasional;
4. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan dan perlengkapan kantor,

6     Program Peningkatan Kapasitas Sumberdaya Aparatur
1. Pendidikan dan Pelatihan Formal;
2. Pendidikan Sekolah Pertanian Negeri Tulungagung;

7     Program Peningkatan Kualitas Produktivitas Pegawai.
1. Anggaran Rutin

 
Program Peningkatan Penerapan Teknologi Pertanian/Perkebunan PDF Print E-mail
Monday, 25 June 2012 23:13

a. Perbanyakan komoditas unggul lokal hortikultura

1. Latar Belakang

Kegiatan Pada umumnya pengembangan komoditas utama bagi suatu wilayah, akan berbasis pada potesi Sumber Daya Alam yang telah beradaptasi dan berinteraksi secara alamiah; selain hasil dari pemetaan komoditi. Tanaman Duku (Lansium domesticum corr) Varietas Sri Gading dan tanaman Durian (Durio Ziberthinus Murrs) jenis bajul (daerah) merupakan salah satu komoditi tanaman buah yang dinilai masyarakat (petani) Kabupaten Tulungagung yang memiliki berbagai keunggulan, baik kuantitas maupun kualitas buah yang dihasilkan. Pengembangan kedua tanaman tersebut selama ini terkendala oleh minimnya ketersediaan bibit yang berkualitas. dan masih rendahnya minat petani sebagai penangkar bibit yang handal. Adanya perhatian dari Pemerintah Kabupaten Tulungagung melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan terhadap masalah tersebut, dapat diharapkan memacu minat petani dalam ikut serta mengembangkan tanaman Duku dan tanaman Durian tersebut menjadi buah primadona, yang sekaligus dapat meningkatkan pendapatan petani. Oleh karenanya Pemerintah Kabupaten Tulungagung melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan pada Tahun Anggaran 2009 kerja sama dengan Pihak Ketiga melakukan pekerjaan pembuatan Pengadaan Bibit Duku Varietas Sri Gading dan Bibit Durian Unggul Lokal Sendang. Didalam pelaksanaan Kegiatan Perbanyakan Komoditas Unggul Lokal Hortikultura di Kabupaten Tulungagung

2. Realisasi Pelaksanaan Kegiatan

Kegiatan tersebut direalisasikan dengan pembuatan bibit durian unggul lokal Sendang. Pelaksanaan Kegiatan Perbanyakan Komoditas Unggul Lokal Hortikultura di Kabupaten Tulungagung Tahun 2011 terdapat 2 (dua) kegiatan utama yaitu :
(1) Pembuatan Bibit Durian Unggul Lokal Sendang dan
(2) Pembuatan Pengadaan Bibit Duku Varietas Sri Gading. Lokasi pembuatan bibit Durian Unggul Lokal Sendang adalah di Desa Sendang Kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung, sedangkan lokasi pembuatan bibit Duku Sri Gading adalah di Kecamatan Ngantru.Hasil pembuatan bibit Durian Unggul Lokal Sendang tersebut dapat dimanfaatkan oleh masyarakat/petani di wilayah sentra pengembangan yaitu Kecamatan Sendang. (di Kecamatan Sendang). Adapun hasil pembuatan pengadaan Bibit Duku Varietas Sri Gading di distribusikan kepada masyarakat/petani di wilayah sentra pengembangan tanaman Duku yaitu di Kecamatan Ngantru, Kecamatan Kedungwaru, Kecamatan Karangrejo dan Kecamatan Sendang.

 
Program Peningkatan Kesejahteraan Petani PDF Print E-mail
Monday, 25 June 2012 23:10

Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) pada tanaman pangan

1. Latar Belakang

Kegiatan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) merupakan salah satu kendala dalam proses produksi tanaman, sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 bahwa pengendalian OPT merupakan kewajiban pemerintah dan masyarakat. Masyarakat dalam hal ini adalah petani yang merupakan pelaksana langsung pengendalian OPT di lapangan, sedangkan pemerintah berkewajiban memberikan bantuan, bantuan dapat berupa informasi OPT teknologi pengendalian OPT, peringatan dini, maupun bantuan sarana pengendalian (pestisida / peralatan pengendalian). Jika sewaktu-waktu terjadi Out Break (ledakan populasi OPT). Salah satu kendala dalam pengendalian OPT adalah keterbatasan ketersediaan sarana pengendalian jika terjadi Out Break populasi. Oleh karena itu untuk keberhasilan dalam penanganan OPT di Kabupaten Tulungagung perlu dilaksanakan kegiatan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) pada Tanaman Pangan pada Tahun 2011 yang di dalamnya termasuk adanya penyediaan sarana pengendalian OPT. Kegiatan ini didanai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Tulungagung melalui Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) Tahun 2011. Kegiatan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) pada Tanaman Pangan di Kabupaten Tulungagung Tahun 2011 bertujuan menyiapkan sarana jika sewaktu-waktu terjadi serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), melaksanakan gerakan pengendalian OPT bersama-sama dengan petani, dan mengamankan produksi petani sehingga produktivitas pada aras yang tetap tinggi.

2. Realisasi Pelaksanaan Kegiatan

Bentuk kegiatan Pengendalian Organisme Penganggu Tumbuhan (OPT) pada tanaman pangan utamanya yaitu melaksanakan penyediaan sarana yang berupa, pestisida dan peralatan pertanian untuk pelaksanaan gerakan pengendalian OPT. Kegiatan ini bertujuan untuk menyiapkan sarana pengendalian OPT pada tanaman pangan jika sewaktu-waktu terjadi out break (ledakan hama), sehingga produksi pertanian dapat diamankan. Sasaran dari kegiatan ini yaitu daerah kronis / endemis / serangan OPT yang dapat menyebabkan terjadinya penyebaran luas serangan dan kelompok tani tanaman pangan yang menghadapi permasalahan dengan OPT. Indikator keberhasilan dari kegiatan ini yaitu telah tersedianya sarana pengendalian OPT Tanaman Pangan yang berupa rodentisida sebanyak 400 kg, belerang 131,25 kg, insektisida 140 liter, Agens Hayati PGPR sebanyak 225 liter dan peralatan pertanian yang berupa hand sprayer sebanyak 10 buah, sehingga dapat terlaksana adanya gerakan pengendalian OPT pada Tanaman Pangan.

 


Copyright © 2014 diperta-tulungagung.com. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
 

Data Statistik

Kalender Tanam Terpadu

Badan Litbang Pertanian

Who's Online

We have 1 guest online

Chat With Our CS

Polls

Bagaimanakah kenerja Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tulungagung selama ini?
 

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday26
mod_vvisit_counterYesterday42
mod_vvisit_counterThis week239
mod_vvisit_counterLast week256
mod_vvisit_counterThis month758
mod_vvisit_counterLast month1585
mod_vvisit_counterAll days20763

We have: 1 guests online
Your IP: 54.198.148.191
 , 
Today: Apr 16, 2014